Daftar Isi [Tampil]


Tanihoki.com
- Ternak sapi potong merupakan usaha yang menjanjikan di Indonesia karena pangsa pasarnya yang terus terbuka dan meningkat setiap tahunnya. Namun, kualitas ternak yang kurang baik serta manajemen pemeliharaan ala kadarnya masih menjadi kendala dalam mengembangkan usaha ini. Oleh karena itu, pembibitan sapi potong yang berkualitas perlu menjadi fokus dalam meningkatkan keseimbangan penyediaan dan kebutuhan ternak.

Indonesia masih membutuhkan banyak bibit sapi potong yang berkualitas untuk mendukung terpenuhinya kebutuhan sapi bakalan dan daging sapi. Pembibitan yang berkualitas dengan standar yang memadai dalam jumlah yang cukup dan tersedia secara berkelanjutan serta harga terjangkau harus diupayakan secara terus menerus. Proyeksi konsumsi daging sapi dan kerbau tahun 2020 meningkat 3,91% dari tahun 2019, tetapi dampak pandemi Covid-19 menyebabkan terjadinya penurunan konsumsi daging sapi dan kerbau.

Belajar dari Korea, Indonesia perlu menerapkan teknologi rekording yang akurat dan kemampuan telusur dari produk hidup hingga produk olahan, seleksi ketat induk, inseminasi buatan, dan manajemen pemeliharaan yang baik untuk meningkatkan bobot hidup sapi potong. Program pembibitan yang bisa diandalkan melalui pengaturan perkawinan dengan menggunakan ternak unggul, baik kawin alam maupun kawin suntik (insemenasi buatan), juga perlu diterapkan.

Untuk jangka panjang, setiap kabupaten/kota diharapkan dapat membentuk Wilayah Sumber Bibit (Wilsumbit). Hal ini diharapkan dapat menciptakan provinsi yang menjadi salah satu pusat penghasil bibit ternak unggul di Indonesia dan konsisten dalam pelaksanaannya yang didukung dengan stakeholder terkait. Selain itu, upaya peningkatan kualitas multi-genetik, seperti peningkatan mutu genetik, peningkatan manajemen pemeliharaan, dan penerapan teknologi yang modern juga dapat membantu meningkatkan kualitas pembibitan sapi potong.

Dalam mengembangkan usaha ternak sapi potong, peternak juga perlu memperhatikan skala kepemilikan. Skala kepemilikan ternak sapi potong di Indonesia masih berkisar 2-3 ekor/rumah tangga. Hal ini jelas sangat merugikan peternak sendiri karena kurang mendapatkan hasil yang memuaskan. Dalam hal ini, program kemitraan ternak sapi potong dapat menjadi solusi bagi peternak dengan skala kecil yang ingin mengembangkan usaha mereka. Program ini dapat membantu meningkatkan produktivitas ternak dan kualitasnya melalui pemberian bantuan teknis dan modal.

Dengan upaya yang terus menerus untuk meningkatkan kualitas pembibitan sapi potong dan penerapan teknologi yang modern, diharapkan dapat membantu meningkatkan keseimbangan penyediaan dan kebutuhan ternak di Indonesia.

Tentunya, untuk bisa menjalankan bisnis pembibitan sapi potong yang sukses dan berkelanjutan, peternak harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam mengelola bibit sapi potong, seperti pemilihan induk sapi yang unggul, manajemen pemeliharaan yang baik, serta penerapan teknologi yang tepat.

Selain itu, peternak juga harus mampu mengoptimalkan pemasaran sapi potong yang dihasilkan, baik secara lokal maupun ekspor. Salah satu cara untuk memperluas pasar adalah dengan menjalin kerja sama dengan perusahaan-perusahaan pengolahan daging sapi, sehingga sapi yang diproduksi dapat diolah menjadi produk daging olahan yang bernilai tambah tinggi.

Dalam hal ini, peran pemerintah juga sangat penting dalam memberikan dukungan dan fasilitas yang memadai bagi peternak sapi potong, seperti penyediaan bibit sapi unggul, penyediaan akses ke pasar, serta pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan keterampilan peternak.

Dengan upaya yang terus menerus dan dukungan yang memadai, bisnis pembibitan sapi potong di Indonesia dapat berkembang pesat dan menjadi salah satu sektor yang sangat menjanjikan dalam menyokong perekonomian negara serta memenuhi kebutuhan daging sapi yang terus meningkat.

Post a Comment