Daftar Isi [Tampil]

Ayam broiler (Sumber: CanvaPro/Dany Kurniawan)


Tanihoki.com
– Siapa yang tak suka ayam goreng renyah atau sate ayam yang lezat? Ayam broiler, dengan dagingnya yang empuk dan gurih, telah menjadi primadona di meja makan masyarakat Indonesia. 

Tak heran, permintaan akan daging ayam ayam broiler terus melonjak, membuka peluang emas bagi para peternak.

Salah satu daya tarik utama beternak ayam broiler adalah siklus pertumbuhannya yang singkat. Hanya dalam hitungan minggu, ayam broiler siap dipanen, memungkinkan peternak untuk segera meraup keuntungan. 

Efisiensi pakan yang tinggi juga menjadi nilai tambah, menekan biaya produksi dan memaksimalkan profit.

Nah, salah satu peternak yang sudah membuktikan itu adalah Hana Kurniaji, warga Pandowoarjo, Sleman. Dia mulai beternak pada 2008 dengan populasi awal sekitar 3.000 ayam.

Dengan modal dari menjual sepeda motor dan perhiasan istri, serta meminjam uang dari orang tua,  Hana Kurniaji membuat kandang dan mulai belajar cara beternak. 

“Saya tidur di kandang untuk mencatat perilaku ayam dan fluktuasi suhu, serta berbagai aspek lainnya,” ceritanya seperti ditayangkan di kanal CapCapung.

Pada tahun pertama, dia mengalami kerugian tanpa mendapatkan untung. Tahun kedua, dia mulai mendapatkan sedikit untung untuk kebutuhan rumah tangga. Namun, tahun ketiga, kandangnya ditutup oleh warga karena masalah lalat yang mengganggu.

Tak patah semangat, Hana Kurniaji mengajukan keberatan ke masyarakat dan diberikan tiga kali kesempatan untuk mencoba beternak lagi. Akhirya, dia pun berhasil dan melanjutkan hingga sekarang. 

“Pada tahun keempat, saya mulai menguasai 80% dari apa yang dibutuhkan ayamayam. Proses belajar ini memakan waktu empat tahun dan memerlukan kesabaran.”

Menurutnya, dasar dari beternak ayam adalah memahami kebutuhan ayam, tetapi faktor penentu keberhasilan sangat banyak, mulai dari tipe kandang, peralatan, operator, suhu, lingkungan, hingga manajemen panen.


Tipe Kandang Ayam Broiler


Secara umum, ada tiga tipe kandang ayam ayam broiler: Open, Semi-Close, dan Close. Kandang Open sangat tergantung pada cuaca dan lingkungan sekitar. Semi-Close sudah menggunakan beberapa teknologi untuk mengontrol suhu dan sirkulasi udara, tetapi belum full otomatis. 

Adapun kandang ayam Close sepenuhnya otomatis dengan peralatan canggih. Kandang Hana Kurniaji saat ini adalah tipe Semi-Close, di mana dia merekayasa sirkulasi udara dan suhu untuk memenuhi kebutuhan ayam.

Kandang Terbuka (Open House):

  • Ciri-ciri: Dinding kandang sebagian besar terbuka, memungkinkan sirkulasi udara alami yang baik. Atap biasanya terbuat dari bahan yang dapat menahan panas matahari.
  • Kelebihan: Biaya konstruksi lebih murah, sirkulasi udara baik, dan mudah dalam pemantauan ayam.
  • Kekurangan: Suhu dan kelembaban sulit dikendalikan, ayam lebih rentan terhadap perubahan cuaca dan penyakit, serta lebih berisiko terhadap serangan predator.

Kandang Tertutup (Closed House):

  • Ciri-ciri: Dinding dan atap kandang tertutup rapat, dilengkapi dengan sistem ventilasi buatan (kipas) dan pendingin (cooling pad) untuk mengatur suhu dan kelembaban.
  • Kelebihan: Suhu dan kelembaban dapat dikendalikan secara optimal, ayam lebih nyaman dan sehat, pertumbuhan lebih cepat, serta lebih aman dari gangguan cuaca dan predator.
  • Kekurangan: Biaya konstruksi lebih mahal, membutuhkan pengetahuan teknis dalam pengaturan sistem ventilasi dan pendingin, serta membutuhkan listrik yang cukup besar.

Kandang Semi Tertutup (Semi Closed House):

  • Ciri-ciri: Kombinasi antara kandang terbuka dan tertutup, sebagian dinding terbuka untuk sirkulasi udara alami, sebagian tertutup dan dilengkapi dengan sistem ventilasi tambahan.
  • Kelebihan: Biaya konstruksi lebih terjangkau daripada kandang tertutup, sirkulasi udara relatif baik, suhu dan kelembaban lebih mudah diatur daripada kandang terbuka.
  • Kekurangan: Pengaturan suhu dan kelembaban tidak seoptimal kandang tertutup, membutuhkan pengaturan ventilasi yang tepat agar tidak terlalu panas atau lembab.

Sementara itu, perawatan kandang ayamayam dimulai dari maintenance listrik, karena sangat penting. “Saya menggunakan sistem all-in all-out untuk kebersihan, membersihkan kandang sebelum dan sesudah panen,” ujarnya.

Dalam setahun, dia melakukan siklus 7 kali dengan satu periode sekitar 49-51 hari. Hana Kurniaji menggunakan metode full feed untuk menjaga ketersediaan pakan.

Kendala yang Dihadapi

Kendala utama adalah listrik yang kurang stabil, padahal sangat penting untuk model kandang ayam Semi-Close

Manajemen pakan juga menjadi masalah karena ketidakstabilan performa pakan dapat mempengaruhi pertumbuhan ayam ayam dan meningkatkan kebutuhan obat-obatan.

Untuk penjualan, dia bekerja sama dengan PT untuk penjualan ayam. Di Yogyakarta, penjualan ayam sehat dengan bobot yang sesuai tidak mengalami masalah. 

Bagi yang ingin memulai beternak ayam, perlu diperhatikan bahwa investasi awal cukup mahal dan butuh waktu lama untuk balik modal. Modal untuk kandang Semi-Close sekitar Rp50-60 ribu per ekor.


Cara Memulai Ternak Ayam Broiler

Namun begitu, beternak ayam ayam broiler bisa dimulai dari skala kecil, cocok untuk pemula atau mereka yang memiliki modal terbatas. Seiring berjalannya waktu, peternak bisa mengembangkan usahanya menjadi skala yang lebih besar. 

Selain daging, produk sampingan seperti pupuk organik dari kotoran ayam juga bisa menjadi sumber pendapatan tambahan.

Disarikan dari berbagai sumber, berikut langkah-langkah untuk beternak ayam broiler:


Perencanaan dan Persiapan

  • Tentukan Skala Usaha: Apakah Anda ingin memulai dengan skala kecil (misalnya 50 ekor ayamayam) atau skala besar (ribuan ekor)? Skala usaha akan mempengaruhi kebutuhan modal, kandang, dan tenaga kerja.
  • Lokasi Kandang: Pilih lokasi yang strategis, tidak terlalu dekat dengan pemukiman penduduk untuk menghindari keluhan bau, memiliki akses air bersih dan listrik, serta mudah dijangkau untuk transportasi.
  • Bangun Kandang: Desain kandang yang sesuai dengan jumlah ayam yang akan dipelihara. Pastikan kandang memiliki ventilasi yang baik, suhu yang optimal, dan pencahayaan yang cukup.
  • Siapkan Peralatan: Peralatan yang dibutuhkan antara lain tempat pakan dan minum, pemanas (khususnya untuk DOC), lampu, termometer, dan timbangan.
  • Modal: Hitung kebutuhan modal untuk pembangunan kandang, pembelian bibit ayam (DOC), pakan, obat-obatan, vaksin, dan biaya operasional lainnya.


Pemilihan Bibit Ayam (DOC)

  • Pilih DOC yang sehat dan berkualitas dari penyedia terpercaya. 
  • Perhatikan ciri-ciri DOC yang baik, seperti lincah, mata cerah, tidak cacat, dan memiliki bulu yang bersih.
  • Sesuaikan jumlah DOC dengan kapasitas kandang.


Pemeliharaan Ayam Broiler

  • Persiapan Kandang: Sebelum DOC datang, bersihkan dan desinfeksi kandang. Siapkan alas kandang (misalnya sekam padi) dan atur suhu kandang sekitar 32-35°C.
  • Pemberian Pakan dan Minum: Berikan pakan starter yang sesuai untuk DOC. Pastikan pakan dan air minum selalu tersedia.
  • Vaksinasi: Lakukan vaksinasi sesuai jadwal yang dianjurkan untuk mencegah penyakit.
  • Pengendalian Penyakit: Amati kesehatan ayam secara rutin. Jika ada tanda-tanda penyakit, segera lakukan tindakan pengobatan.
  • Sanitasi: Jaga kebersihan kandang dan lingkungan sekitar untuk mencegah penyebaran penyakit.


Masa Panen

Ayam Ayam broiler biasanya siap panen pada usia 5-7 minggu, tergantung pada jenis dan target berat badan.

Lakukan penimbangan untuk memastikan ayam sudah mencapai berat yang diinginkan.

Panen ayam dengan hati-hati untuk menghindari cedera.

Untuk pemasaran, tentukan target pasar, apakah akan menjual langsung ke konsumen, ke pedagang pengumpul, atau ke rumah potong hewan.

Jalin kerja sama dengan pihak-pihak terkait untuk memperluas jaringan pemasaran.


Post a Comment