Daftar Isi [Tampil]


Tanihoki.com
-- Namanya Tri Herianto, tinggal di Jalan Legolan Kilometer 15, Kaliurang, Sleman, Yogyakarta. Ia sudah hampir 4 tahun menekuni budidaya talas Pratama, dengan varietas Pratama 1, Pratama 2, dan Pratama 3.

Kisah petani talas ini diceritakan lewat channel YouTube Capcapung. Awalnya, dia bekerja di Jakarta sebagai subkontraktor di sebuah perusahaan besar dari 1993 hingga 2012. 

“Setelah itu, saya memutuskan untuk kembali ke Jogja pada tahun 2014 dan mulai bertani talas Pratama hingga sekarang. Peluang usaha di budidaya talas Pratama sangat besar, baik dari segi harga maupun permintaan pasar yang terus stabil,” katanya dikutip dari Capcapung.

Talas (Colocasia esculenta) adalah tanaman umbi-umbian yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Tanaman ini tumbuh subur di berbagai daerah di Indonesia, terutama di daerah dengan curah hujan tinggi dan kelembaban udara yang cukup.

Selain umbinya yang dapat diolah menjadi berbagai macam makanan, bagian lain dari tanaman talas seperti daun dan batang juga memiliki nilai ekonomis.

Di Indonesia, talas adalah salah satu tanaman yang memiliki potensi bisnis cukup besar. 

Umbi talas merupakan sumber karbohidrat yang baik dan dapat diolah menjadi berbagai makanan seperti keripik talas, kue talas, kolak talas, dan berbagai olahan lainnya. Selain itu, daun talas juga dapat dijadikan sebagai pembungkus makanan tradisional seperti buntil dan pepes.

Umbi talas juga dapat diolah menjadi tepung talas yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bahan baku industri pangan. Tepung talas dapat digunakan sebagai pengganti tepung terigu dalam pembuatan kue, roti, mie, dan berbagai produk lainnya.

Batang talas mengandung serat yang kuat dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kertas, tekstil, dan kerajinan tangan.

Selain itu, talas dipercaya memiliki khasiat sebagai obat tradisional untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan seperti gangguan pencernaan, diabetes, dan hipertensi.

Daun dan batang talas juga dapat dijadikan sebagai pakan ternak yang bergizi tinggi, terutama untuk ternak ruminansia seperti sapi dan kambing.

Bahkan, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengekspor produk olahan talas ke berbagai negara, terutama negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Timur yang memiliki permintaan tinggi terhadap produk-produk olahan talas.

Jenis Talas Pratama

Tri Herianto adalah salah satu petani yang cukup sukses membudidayakan talas. “Saat pertama kali memulai, saya belum memikirkan soal pemasaran. Saya hanya fokus membeli bibit dan menanamnya di lahan seluas sekitar 2.500 meter persegi,” ujarnya.

Lambat laun, dia mulai memasarkan talasnya, dan permintaan pasar ternyata sangat tinggi. Bahkan, kadang-kadang saya kesulitan memenuhi seluruh permintaan tersebut.

Menurutnya, tantangan utama dalam budidaya talas Pratama adalah mengatasi ulat tanah yang merusak umbi. Namun, ada obat untuk mengatasi masalah ini. 

Dia mengembangkan tiga jenis talas Pratama: Pratama 1, Pratama 2, dan Pratama 3. Talas Pratama 3 sebenarnya adalah talas Papua, sedangkan Pratama 1 dan Pratama 2 adalah hasil penelitian ilmuwan IPB Bandung.

Umbi Pratama 1 bisa mencapai berat lebih dari 6 kilogram jika dirawat dengan baik, sementara Pratama 2 umumnya lebih kecil. 

Dia menanam talas dengan jarak tanam 90 cm x 1,2 meter, dan waktu panen biasanya 7-8 bulan. Untuk efisiensi, Tri juga menanam talas baru di sela-sela tanaman yang sudah berusia 5 bulan, sehingga bisa panen dua kali setahun.


Proses Tanam Cukup Mudah

Proses penanaman talas tidak terlalu rumit. Tanah tidak perlu diolah secara menyeluruh, cukup dibuat lubang tanam dengan diameter 30 cm dan kedalaman 20 cm, lalu diberi pupuk organik. Setelah bibit ditanam, perawatan gulma dilakukan dengan penyemprotan yang hati-hati agar tidak mengenai daun talas.

Pada musim kemarau, ancaman utama adalah belalang dan bekicot yang suka memakan daun muda. “Untuk mengatasi ini, saya menggunakan insektisida khusus. Perawatan lain yang penting adalah menimbun tanaman secara berkala dan memberi pupuk organik,” katanya.

Diakuinya, pemasaran talas Pratama cukup mudah. Tri menjualnya ke pasar lokal di sekitar Yogyakarta, Bandung, Malang, Jawa Timur, Tangerang, dan Jakarta. 

“Dengan bantuan teknologi digital dan online, saya bisa menemukan peluang pasar yang luas. Harga jual talas per kilogram untuk partai besar adalah Rp8.000, sedangkan untuk eceran Rp10.000.”

Budidaya talas Pratama bisa menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan. Dengan perawatan yang baik, hasil panen dapat meningkatkan pendapatan. 

Tri menyarankan bagi siapa saja, terutama anak muda dan kaum milenial, untuk mencoba bertani talas atau tanaman lainnya. Banyak lahan kosong yang bisa dimanfaatkan untuk pertanian, dan permintaan pasar untuk talas cukup besar, terutama di negara-negara seperti Thailand, Vietnam, dan Jepang.

Jika ada yang tertarik untuk budidaya talas Pratama dan membutuhkan bibit, bisa menghubungi Tri Herianto, di Jalan Kaliorang KM 15, atau melalui nomor WhatsApp 087743613969. “Saya siap membantu dalam proses penanaman dan pemasaran.”


Post a Comment